browser icon
You are using an insecure version of your web browser. Please update your browser!
Using an outdated browser makes your computer unsafe. For a safer, faster, more enjoyable user experience, please update your browser today or try a newer browser.

TUGAS PEMBERITAAN INJIL

Posted by on 30/12/2010

Sudah merupakan kewajiban dan tanggung jawab dari setiap orang yang telah percaya Yesus untuk mewartakan Injil kepada setiap orang, baik melalui perkataan maupun cara hidup kita.  Karena pewartaan Injil itu adalah amanat agung dari Tuhan Yesus Kristus (Matius 28: 18-20)

Itu adalah tugas yang tidak bisa ditawar. Itu merupakan kewajiban dari setiap orang yang telah mengikatkan dirinya dalam persekutuan dengan tubuh Kristus.  Rasul Paulus dengan begitu kerasnya berkata, ” Karena jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil.” (1 Korintus 9:16)

Pemberitaan Injil adalah sebuah keharusan bagi orang percaya, tetapi harus pula kita ingat bahwa tugas pemberitaan Injil adalah sebuah karunia yang membanggakan yang tidak ternilai harganya yang diberikan Tuhan kepada kita.  Mengapa pemberitaan Injil itu menjadi kewajiban sekaligus menjadi kebanggaan dan karunia buat kita?

Sebab dengan  menjadi pemberita Injil, itu artinya kita telah menjadi mitra kerja Tuhan dalam menyelamatkan dunia ini. Bukankah hal ini menjadi karunia yang membanggakan yang tidak ternilai harganya?

Saya ingat sebuah pepatah bijak mengatakan, bahwa harga diri seseorang dapat dilihat dari siapa yang menjadi mitra kerjanya dan siapa yang menjadi tuannya.  Jadi jika pepatah ini berlaku secara universal, maka kita adalah pribadi – pribadi yang paling berharga, kita adalah pribadi – pribadi membanggakan yang paling tinggi nilainya, karena kitalah pribadi – pribadi yang menjadi sahabat dari penguasa dan pencipta dunia ini.

Kita adalah pribadi yang menjadi mitra kerja dan staf dari penguasa alam semesta ini. Kita adalah kawan sekerja dengan Yesus.  Bukankah  itu menjadi sebuah anugerah yang tidak terbilang nilainya?  Karena itulah sebagai orang yang telah merasakan betapa baiknya Tuhan itu, kita perlu menyebarkan kebaikan Tuhan itu kepada setiap orang.  Karena siapapun orang itu, ia memiliki nilai yang sama dihadapan Tuhan. Ia berharga dihadapan Tuhan.

Tugas sebagai seorang pewarta Injil harus kita pahami dari dua sisi.  Yang pertama kita ditugaskan untuk mencari jiwa. Berbicara mencari jiwa, itu berarti berbicara tentang kuantitas. Ini berarti berbicara tentang pertambahan jumlah. Tetapi kita juga tidak boleh melupakan sisi yang kedua yaitu, kualitas.

Yesus sendiri pernah menegur orang  orang Yahudi yang berusaha mengumpulkan pengikut sebanyak-banyaknya secara kuantitas tetapi melupakan kualitas jemaat yang mereka kumpulkan.

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang -orang Farisi, hai kamu orang – orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk menobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat daripada kamu sendiri.” (Matius 23:15)

Karena itu, antara kuantitas dan kualitas dalam tugas pewartaan Injil harus berimbang.  Kita tidak boleh menonjolkan yang satu dan melupakan yang lain. Karena jika itu kita lakukan, maka pelayanan kita akan menjadi tidak berimbang. Kita akan terjebak dalam kutub – kutub yang salah.

Dalam amanat agungNYA Yesus mengatakan, “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-KU dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus.” (Matius 28:19).  Kata jadikanlah semua bangsa murid-Ku, menunjukkan bahwa Yesus menginginkan terjadi sebuah proses pengajaran atau pemuridan.  Yesus menginginkan terjadinya pembentukan kualitas jemaat yang sesuai dengan kehendak Tuhan. Ketika jemaat telah memiliki pemahaman yang benar dan memiliki kualitas yang utuh barulah kita menggenapi keseluruhan perintah/amanat agung Tuhan Yesus Kristus.

Berapa banyakpun orang yang kita injili dan dibawa kepada Tuhan jika tidak disertai pemahaman yang benar, yang sesuai Firman Tuhan, maka apa yang kita lakukan itu akan sia – sia, karena jika jiwa-jiwa yang dimenangkan tidak berakar kepada Firman Tuhan, maka begitu ada masalah sedikit saja, dia akan terlempar keluar.

Penginjilan hanya akan bermanfaat jika orang yang kita injili dan dimenangkan dapat memahami apa kehendak Tuhan dalam dirinya. Jadi yang harus kita lakukan adalah:

1. Cari jiwa bagi Tuhan, karena satu orang diselamatkan, maka malaikat di surga bersorak sorai. (Lukas 15:7-10).

2. Lakukan pemuridan supaya berkuantitas. (Matius 28:19-20)

(Pdt. Dr. Yuda D Mailool)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>